Sabtu, 16 Februari 2013

Hanya dan Karena


       Teringat sama kata-kata yang diajarkan dosen pada saat kuliah sistem sosial. Beliau bilang bahwa Sistem sosial pada umumnya di dalamnya terjadi proses yang saling pengaruh mempengaruhi, hal ini terjadi karena adanya saling keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya atau satu bagian dengan bagian lainnya atau antara subsistem dengan subsistem lainnya”.

Contoh sederhana dari sistem tersebut adalah keluarga, dimana terdapat unsur-unsur didalamnya seperti suami, istri, serta anak-anak yang saling keterkaitan satu sama lain.
Ngomongin soal keluarga sebenarnya aku agak sedikit malas, karena ada yang bilang bahwa ngomongi konflik keluarga sendiri sama dengan mengumbar aib. Kata-kata seperti itu aku dapat ketika jumpa dengan seseorang disuatu tempat.

Yang namanya konflik dalam keluarga itu kan suatu hal hal biasa, tapi gak buat aku. Seperti sekarang ini masalah keluarga kerap terjadi dengan keluargaku sendiri, dari hal yang kecil sampe hal yang besar. Aku juga gak tau harus bilang sama siapa, harus curhat sama siapa. Curhat sama teman? Paling juga mereka hanya bilang “SABAR YA”, berkali-kali aku curhat itu-itu juga jawaban mereka, ada yang bilang “jangan dipikiri kali lah, hidup ini dibawa santai aja”, aku merasa kok percuma curhat sama temen tapi mereka gak memberikan jalan keluar atau nasehat yang baik. Bahkan, terkadang saat kita susah seperti itu ada aja temen yang tertawa dibelakang kita.

Awalnya masalah ortu, yang katanya ortu aku selingkuh lah, ini lah, itu lah. Dengar gossip seperti itu buat kepala ku makin pusing aja, mau pecah rasanya tiap hari dengar kata-kata kayak gitu. Ditambah lagi ortu yang salah paham, terkadang juga mereka bertengkar. Kalau udah seperti itu ingin aja rasanya keluar dari rumah.

Hampir masalah ortu selesai, setelah itu datang lagi masalah karena abang ku sendiri menjadi tahanan polisi selama 6 bulan, entah karena apa juga aku pun gak mau ambil pusing. Tiap hari harus ngurusi dia, tiap hari aku datang kekantor kejaksaan buat ngurusi dia biar dia bebas., ngurus dia waktu sidang jatuh vonis, sampai harus ngeluari uang hingga berjuta-juta rupiah.

Masalah seperti itu aku gak mau cerita ke siapapun, aku juga gak mau ngerepoti mamaku, karena aku tau mamaku juga baru pulih dari penyakitnya. Mamaku sempat koma dua hari di rumah sakit, rasanya sedih banget. Rasa nya kayak apa ya? Kayak akan kehilangan sesuatu yang sangatttttt berhargaaaaa bangetttttt. Setiap hari pulang dari kampus aku harus jagain mamaku dirumah sakit, capek sih iya, tapi aku ingin mamaku cepat sembuh, Cuma itu aja yang buat rasa capek itu hilang.

Gak mau dengeri omongan orang yang ini itu, orang-orang tau nya hidup aku cukup enak. Mereka gak pernah tau ada banyak beban masalah yang hampir buat aku putus asa.
Aku cukup diam, mempertahankan keluarga ku agar tidak pecah belah. Agar keluarga aku tetap menjadi satu kesatuan seperti “sistem” yang utuh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar