Pergi kuliah enaknya dipagi hari, pulang kuliah enaknya dimalam hari. Kenapa?, karena menghindari jalanan yang macet, polusi udara. Pergi kuliah dipagi hari pun terasa lebih enak karena cuacanya belum terasa panas. Bayangkan saja jika pergi kuliah saat siang tiba, cuaca berasa panas apalagi suhu udara di kota Medan ini bisa mencapai hingga 32°C ditambah lagi jika pergi kuliahnya naik angkot (red: angkutan kota) makin berasa aja udara yang pengap didalam angkot itu.
Yang paling dipermasalahkan dari semua itu adalah kemacetan, terkadang sempat juga aku berfikir didalam angkot bagaimana ya supaya jalanan yang ku lalui saat pergi kuliah itu gak macet atau minimal kemacetan sedikit berkurang? hemmmp membatasi jumlah kendaraan bermotor apakah merupakan cara yang cerdik? Atau mengurangi jumlah angkot dan juga becak?
Lihat saja di kota Medan, supir angkot hampir semuanya ugal-ugalan dijalan, menerobos lampu merah, kejar-kejaran dengan angkot lain untuk memperebutkan penumpang, menaikan dan menurunkan penumpang dengan sembarangan dipinggir jalan, semua hal itu juga menjadi salah satu faktor kemacetan. Tak hanya angkot, bus lintas sumatera pun membuka loket-loket dipinggir jalan. Terminal? Iya terminal, aku jadi tidak melihat fungsi dari terminal itu sendiri, terminal hanya dijadikan tempat “numpang lewat” bahkan tak jarang banyak pungutan-pungutan liar yang harus dibayar oleh sisupir angkot, membuat jalanan makin tidak kondusif.
Lepas dari masalah angkot, pedagang kakilima pun ikut menjadi faktor kemacetan yang selanjutnya, mereka membuka tenda-tenda jualan dipinggir jalan, ruas jalan hampir setengahnya dibuat untuk berjualan, misalnya saja didepan kantor Dinas Pertanian kota Medan sekitar asrama haji, mulai dari pukul 18:00 WIB sudah banyak tenda-tenda yang didirikan untuk berjualan. Ada yang berjualan ayam penyet, nasi goreng, bakso, mie ayam, sop buah, dan berbagai kuliner lainnya. Selain membuat kemacetan, hal seperti itu juga memperburuk pemandangan khususnya buat kantor dinas Pertanian itu sendiri, karena para pedagang tersebut juga meninggalkan sampah. Tidak hanya disitu, di Ring Road, didepan USU juga banyak pedagang kaki lima yang berjualan dipinggir jalan.
Selanjutnya, Sampah? sampah disepanjang jalan kota Medan juga tidak sulit ditemukan, banyak sekali orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Yang lebih parahnya lagi terkadang sudah tertulis peringatan “dilarang membuang sampah di area ini” tapi justru ditempat itu pula sampah banyak yang menumpuk.
Jika “bersih” menjadi kearifan tradisional, apakah kearifan tradisional itu susah diterapkan ?
Atau sudah banyak orang yang beralih dari sang actor menjadi agen? Agen yang melanggar aturan, yang ingin mencari kebebasan sendiri, yang membuat hukum sendiri, atau juga tidak melihat adanya power dari hukum serta aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.
Apa dinegara kita saja terdapat hal seperti itu? Aku dengar dinegara tetangga tidak ada yang namanya kemacetan, mereka berkendara dengan baik mengikuti peraturan lalu lintas.
Mungkinkah masyarakat yang multikultur itu lebih sulit diatur? atau sanksi yang diberikan jika melanggar aturan kurang tegas? entahlahhh